Sabtu, 12 Oktober 2013

"The House of Spirits" - Isabel Allende

Review Buku "The House of Spirits" atau dengan judul Asli dalam edisi bahasa Spanyol"La Casade Los Espiritus" yang dialih bahasakan oleh Ronny Agustinus kedalam Edisi Bahasa Indonesia dengan judul "Rumah Arwah"


Ketika membaca buku ini dari awal sampai pertengahan, sempat ada keinginan untuk menghentikan membaca, karena diserang oleh rasa kebosanan, dengan alur cerita yang terlalu detail dan kadang melompat-lompat sudut pandang penceritaan dari sudut pandang oran pertama kemudian tiba-tiba berubah menjadi sudut pandang orang ketiga.

Dan sebenarnya awal membaca buku ini mendapatkan kesan yang bagus dimana menggambarkan karakter tokoh pria utama nya dari sisi gelap dan karakter jahat lainnya, sehingga sempat berpikir bakal akan banyak konflik psikologis antara peran pria dan wanita, tapi lama-lama bosen juga, (sebagai sesama pria gerah juga.. ahahaha)  kelihatan terasa berlebihan. awalnya saya berpikir Isabel Allende adalah seorang feminis yang sangat keras menyuarakan masalah perbedaan gender, apalagi banyak tokoh utamanya perempuan digambarkan dengan segala kelebihannya.

Melihat keadaan seperti itu,membuat saya berpikir koq isi bukunya tidak sesuai dengan referensi yang saya bayangkan, bahwa buku ini adalah sebuah buku yang bagus, selain itu Saya juga tidak merasakan feel dari buku ini, merasa ada yang salah dari buku ini. Sehingga sempat membuat saya mempunyai niat untuk tidak melanjutkan membacanya apalagi dalam beberapa hari ini diganggu dengan sakit migren dan keinginan untuk mblusukan dan kangen pengen pulang ke rumah.

Namun timbul rasa penasaran saya, terhadap apa sebenarnya isi pemikiran yang melandasi Isabel Allende menulis dengan penokohan yang seperti itu dan sudut pandang penceritaan yang berubah-ubah. Dimana beberapa teman yang pernah membaca buku ini menyuruh saya untuk tetap meneruskan membaca sampai selesai. Apalagi kemudian teringat perkataan bapak saya dulu, yang selalu mengingatkan saya tentang cara membaca sebuah buku yang benar, "kamu tidak akan mendapatkan subtansi, roh atau benang merah dari cerita sebuah buku kalau kamu tidak tahu siapa penulisnya, latar belakang penulisnya, dan (atau) apa yang mendasari mereka menulis buku itu, karena sebuah buku ditulis, pada umumnya dipengaruhi oleh proses kehidupan sang Penulis, entah itu masa kecilnya atau masa mudanya atau masa kininya atau peristiwa yang luar biasa yang mempengaruhi kehidupan penulisnya".

Akhirnya saya melakukan riset kecil-kecilan dengan modal dari "Om Google" untuk mencari tahu siapa sebenarnya Isabel Allende dan secara bersamaan mengulang membaca dari awal lagi. Pada awal membeli buku ini, begitu melihat nama Isabel Allende, ingatan saya langsung mengarah kepada seorang Pemimpin Sosialis yang menjadi Presiden Chili tahun 1970 - 1973 Salvador Allende yang pada tahun 1973 dikudeta oleh militer dibawah pimpinan Augusto Pinochet yang dibantu oleh pemerintah Amerika Serikat, dimana Salvador Allende diracun kemudian dibunuh oleh pengikut Augusto Pinochet. Namun sempet timbul keraguan korelasi antara seorang penulis novel dengan mantan seorang presiden Chili yang termasyhur itu.

Dan ternyata memang benar bahwa Isabel Allende adalah keponakan dari Salvador Allende, Itulah mengapa dalam bukunya dia juga menceritakan kematian Rosa kakaknya Clara (Clara, tokoh utama Wanita dalam buku ini selain Alba cucu dari Clara) yang meninggal karena minum racun yang seharusnya ditujukan kepada Bapaknya sebagai seorang Politikus. Dari sinilah saya mulai bisa merasakan roh dari buku ini.

Ketika lebih dalam lagi melakukan penelusuran saya menemukan lebih dalam lagi siapa sosok Isabel Alende, yang sesuai dugaan saya sebelumnya, Dia adalah salah satu keponakan Salvador Allende. Yang ikut menyaksikan dalam kesunyian atas kekejaman dari kudeta berdarah tersebut. Pada saat itu dia bekerja sebagai seorang wartawati di Chili, itulah sebabnya mengapa gaya penuturannya dalam buku dia berbentuk percakapan dan dengan alur cerita yang detail, karena Isabel Allende memiliki latar belakang sebagai seorang wartawati.

Kudeta Militer yang terjadi di Chili yang meniru gaya Penggulingan Presiden Soekarno yang dilakukan oleh MayJend. Soeharto di Indonesia, di Chili dilakukan sangat terang-terangan dan lebih vulgar serta sadis dan dibantu secara langsung oleh Pemerintah Amerika Serikat. Persis dengan yang terjadi di Indonesia, terjadi pembunuhan dimana-mana terhadap para pengikut setia Allende, baik di kota-kota maupun didesa-desa dan terjadi banyak pemerkosaan terhadap wanita yang keluarganya dituduh sebagai pengikut Allende, ribuan rakyat Chili yang tidak berdosa menemui ajalnya dan jutaan rakyat Chili mengalami siksaan dan kesengsaraan hidup selama 17 tahun dibawah rezim Militer Pinochet.

Itulah mengapa penggambaran seorang Esteban Trueba (tokoh utama pria) sebagai seorang laki laki pemarah, sadis, dan jahat, yang telah mengubah Tres Marias yang terbengkalai menjadi tanah perkebunan yang menjanjikan dan memberikan kekayaan bagi keluarganya sementara penderitaan ada pada buruh perkebunannya. Ia juga kerap berlaku kejam dengan mengambil kesucian gadis gadis perawan desa. Disinilah saya baru bisa melihat benang merah mengapa sosok seorang Esteban Trueba diceritakan begitu kejamnya, karena Isabel Allende ingin mengungkapkan betapa kejamnya rezim Militer Pinochet yang berkuasa secara diktator yang bergelimpangan kekayaandi atas darah dan kesengsaraan rakyat Chili selama 17 tahun kekuasaannya dengan mempersonifikasikan dalam diri Esteban Trueba.

Dalam proses kudeta tersebut membuat Keluarga Allende tercerai berai, Isabel Allende terpisahkan dengan anak dan suami nya dalam proses melarikan diri keluar dari Chili, yang akhirnya dapat berkumpul kembali dengan anak dan suaminya serta mendapatkan suaka politik di negara Venezuela selama hampir 13 tahun lamanya, (sekarang ini Isabel Allende dan keluarganya tinggal di Amerika Serikat). Dinegara Venezuela inilah Isabel Allende hanya dapat meratapi dengan pilu keadaan keluarga besarnya dan kesengsaraan rakyat negaranya. Apalagi pada waktu menulis buku ini dia tidak bisa kembali ke negaranya karena masuk dalam daftar buronan negara Chili dibawah rezim Militer Pinochet. Seorang Isabel Allende muda yang energik, penuh keceriaan, keusilan dan ketika peristiwa kudeta itu terjadi yang merubah hidupnya penuh kesengsaraan dan rasa prihatin yang mendalam terhadap ribuan rakyat Chili yang dibunuh dalam sunyi tanpa dikenali yang menjadi arwah yang tidak bernama. Dan kondisi rakyat dan negaranya yang hanya bisa menerima kekejaman pemerintah rezim Militer Pinochet tanpa bisa melawan. Yang dipersonifikasikan dalam sosok tokoh utama wanita, Clara.

Hal inilah yang mendasari tokoh utama wanita, sosok seorang Clara sebagai seorang gadis muda yang ceria yang memiliki keusilan dan keunikan bisa menggerakan benda tanpa menyentuhnya, bisa meramal masa depan, dan bisa melihat dan berbicara dengan arwah orang yang sudah meninggal, seorang gadis manis anak bungsu yang cuek dan nyentrik. Sifatnya itu sudah terlihat semenjak ia masih kecil. Ia bisa memainkan piano tanpa membuka penutupnya, dan suatu ketika pernah menginterupsi seorang Romo yang sedang berkhotbah, “Ssst! Romo Restrepo! Kalau cerita soal api neraka itu bohong belaka, mampuslah kita semua..”

Dan karena rasa bersalahnya telah meramalkan akan ada kematian dikeluarganya, yang tidak dia duga ternyata yang meninggal adalah kakaknya yang tertua, Rosa, secara tidak sengaja meminum racun yang ditujukan pada bapaknya sebagai seorang politikus, sosok Rosadi gambarkan sebagai sosok yang cantik sempurna dan akan dipersunting oleh Esteban Trueba. Karena rasa bersalahnya atas kematian kakaknya, Clara puasa bicara selama 9 tahun, begitu mau bicara dia meramalkan dirinya sendiri yang akan menikah dengan Esteban Trueba, yang memang kemudian terjadi. Dari sinilah kehidupan yang penuh penderitaan Clara dimulai, harus menerima untuk menikahi pria yang berprilaku jahat dan kasar tanpa didasari cinta. Yang akhirnya lebih tenggelam dalam dunia arwah daripada mencintai suaminya setelah melahirkan ketiga anaknya. Yang membuat Esteban Trueba semakin kejam sikapnya.

Lahirlah anak-anak dari pasangan ini: Blanca, bersifat lembut namun pemberontak, serta si kembar Nicolas dan Jaime, yang berbeda watak.

Pada musim panas keluarga ini ikut Esteban Trueba ke Tres Marias. Seiring remaja, Blanca menambatkan hatinya pada pemuda dekil Pedro Tercero Garcia, anak petani si mandor Pedro Segundo Garcia. Percintaan tersembunyi dua remaja tanggung ini melahirkan Alba, cucu Esteban Trueba yang menjadi anggota keluarga paling disayang oleh Esteban Trueba sekaligus mesin penggerak kisah buku ini. Sosok Alba inilah yang mewakili pandangan Isabel Allende yang sekarang, bahwa Tragedi berdarah diChili harus diterima dengan ikhlas sebagai sebuah peristiwa kelam dalam sejarah Chili, tetapi tetap harus disuarakan dan dibuka, bagaimana kekejaman terhadap kemanusiaan tidak bisa didiamkan.

Tercero Garcia adalah manifestasi seniman rakyat, yang mewakili impian kaum petani mengolah tanahnya sendiri, melalui kisah sederhana dari lagu lagu yang dibawakannya tentang ayam dan rubah. Jika ayam dapat bersatu, demikian isi dongeng rakyat Garcia, maka rubah pun akan takut mengganggu kehidupan mereka. Ayam adalah simbolisme kaum tani. Rubah adalah antagonisme tuan tanah dan pemilik modal yang didukung Rezim Diktator. Kesadaran Garcia juga ditempa seorang pendeta sosialis.

Betapapun Esteban Trueba menyayangi Alba, ia tak pernah memaafkan tindakan Blanca, bahkan terus mencari-cari Tercero Garcia dan berusaha membunuhnya, lewat pertengkaran sengit, hingga meninggalkan cacat pada tangan Garcia. Bertahun-tahun kemudian mereka bertemu lagi, dalam situasi berbeda, di mana Esteban Trueba menjadi tahanan petani Tres Marias dan Garcia datang untuk menyelamatkannya atas permintaan Blanca. Keduanya akan rujuk sesudah Esteban Trueba menyadari aktivitas politiknya, yang berada di tangsi militer, berjalan penuh kelokan tajam, Militer yang membunuh Jaime (dokter pribadi sang Presiden sosialis) dan menyiksa Alba atas dendam pribadi anak haram Esteban Trueba. Suatu kepercayaan naif Esteban Trueba kepada kaum militer lewat kudeta yang disokong negara-negara Barat. Babak kudeta, yang menyuruk keluarga ini hingga tak terperi, merupakan salinan realitas atas peristiwa kudeta Chile pada 1973.

Isabel Allende menggali kehidupan para korban penggulingan berdarah ini sebagai arwah gentayangan yang menggelayuti mendung hitam kediktatoran pemerintahan militer Pinochet. Generasi sesudah transisi rezim kotor ini menanggung beban sejarah maha berat dipundaknya. Mereka terbaring gundah di bahu generasi masa kini, menuntutkedamaian abadi melalui perjuangan yang seringkali bak dongeng sisiphus…


Kesimpulan :
Buku "Rumah Arwah" Isabel Allende menambah deretan gerakan kesusastraan Amerika Latin yang menjangkau dunia internasional. Dengan menggunakan dan mengenalkan "realisme magis" yaitu pendekatan fiksi dengan menggabungkan realitas dan fantasi. Yang menurut saya tidak hanya sebagai fiksi "realisme magis" saja tetapi juga sekaligus sebagai "Fiksi sejarah" tentang kehidupan rakyat Chili dibawah Rezim Pinochet.

Banyak Review buku yang menuliskan bahwa buku ini adalah buku yang menggambarkan perjuangan Feminisme terhadap ketidakadilan dalam perjuangan kesetaraan bagi kaum wanita, kalau menurut saya Isabel Allende dalam bukunya "House of Spirit ini tidak hanya sekedar itu, dia justru memperjuangkan dan menyuarakan hal yang jauh lebih besar lagi yaitu memperjuangkan keadilan dan kemanusian atas kekejaman Tirani dari suatu pemerintahan negara yang sangat kejam, yang selama ini didiamkan kekejaman mereka yang hanya dicatatan sebagai lembaran sejarah usang saja, dan jangan lupa setiap peristiwa sejarah perebutan kekuasaan yang brutal selalu yang menjadi korban kebanyakan adalah para wanita dan anak anak serta masyarakat awam.

Dalam wawancaranya dengan"January Magazine" dia juga menjelaskan bahwa inilah cara dia menyuarakan kekejaman Rezim Diktator ditempat pembuangannya di Venezuela.

Biar tidak penasaran, lebih baik beli dan baca bukunya secara utuh, dan harus sabar karena plot nya mengalir pelan dan banyak detail dan kompleksitas cerita dengan metode percakapan dan juga banyak nama-nama asing yang mewarnai sepanjang cerita.

Serta sudut pandang yang berubah-ubah mendadak sering membingungkan, hal ini dapat dimaklumi, karena buku ini diilhami oleh koresponden yang intens tentang keadaan Chili  antara Isabel Allande dan Kakeknya yang berada di Chili pada tahun 1981, sehingga sudut pandang buku ini berubah-ubah dari sudut pandang orang pertama berubah ke sudut pandang orang ketiga.

Pada Tahun 1982 buku ini dipublikasikan sebagai buku dalam edisi bahasa Spanyol, yang tidak beberapa lama akhirnya mendunia dialih bahasakan ke banyak bahasa, seperti kedalam bahasa Inggris, Prancis dll, termasuk juga akhirnya dalam Bahasa Indonesia.



Masih ada beberapa buku lagi karya Isabel Allende yang layak untuk dibaca :

Portrait in Sephia
Aphrodite
Daughter of Fortune
.....



Hanya satu Kata
Superb!!!
Selamat menikmati Long weekend

#seulas senyum tipisinspirasi

Selasa, 08 Oktober 2013

"PENDAKIAN GUNUNG LAWU"

Coretan Perjalanan (4)


Coretan perjalanan Pendakian Gunung Lawu semasa SMA, Pelatihan SAR GUNUNG, di up date terakhir 05 Oktober 2010. Diedit beberapa hari yang lalu.

Mendaki Gunung, buat saya sangat kental dengan aura mistis, kadang tidak masuk akal dan logika. Alangkah lebih baiknya kalau kita mempersiapkan pengetahuan atau memiliki pengetahuan yang memadai dan niat yang bersih dan tulus serta  jangan sekali-kali merasa menantang ataupun pengen menaklukan gunung karena ego dan kesombongan dikarenakan ingin mendapatkan pengakuan bahwa kita pernah menaklukan Gunung, yang ada justru kita yang akan takluk karena kesombongan kita .

 Banyak orang hilang bahkan mati digunung karena minimnya pengetahuan tentang Gunung, seperti pengetahuan topografi, vegetasi atau tipe hutan, dan pengetahuan dasar survival serta karena rasa ego dan kesombongan kita.

"Naik Gunung bukan untuk menaklukan puncak, tapi justru mengalahkan ego dalam diri... Jangan pernah merasa hebat, dan buang jauh keangkuhan yang menguasai diri, serta jangan lupa berdoa" ... Mahameru Bersamamu - Ristyanina

Hal Hal yang perlu diperhatikan, selain doa : 

1.   Jangan ngeluh, karena itu akan 
      menurunan Semangat temen kita, 
      psikis akan sangat berpengaruh.

2.   Mental dan keteguhan hati bisa 
      mengalahkan  apapun, termasuk fisik yang 
      udah nggak memungkinkan.

3.   Jangan tinggalkan sampah dimanapun, 
      termasuk sampah hasil peradaban masyarakat, 
      terutama dari material plastik.

4.   Jangan parno duluan sebelum berperang 
      (menjalani pendakian).

5.   Take Nothing but Picture, Leave nothing 
      but footprint, Kill nothing but time.

6.   Ini bukan rumah kita, jangan berbuat 
      seenaknya, tapi dijaga seperti kita menjaga 
      rumah kita.

7.   Jaga omongan, karena lidah selalu 
      sangat tajam.

8.   Jangan tinggalkan temen, 
      karena berangkat bareng-bareng, 
      jadi balik juga harus bareng,
      kecuali dalam keadaan yang terpaksa,
      dan yang ditinggal minimal harus ditemani
      satu atau dua orang yang menguasai
      gunung.

9.   Kenali daerah sekitar,
      karena akan membantu selama perjalanan 
      (Topografi, Vegetasi, survival dasar dll).

10. Pijakan kakimu dengan penuh keyakinan.

11. Jangan merusak apapun, jangan asal 
      coret-coret.

12. Jaga Sikap dan tingkah laku, 
      karena mau percaya atau tidak 
      gunung memiliki aura mistis.


Dibawah ini ada beberapa paparan tentang Topografi Gunung Lawu, karakteristik Gunung Lawu, Vegetasi atau tipe hutan Gunung Lawu dan Jalur Pendakian.


TOPOGRAFI GUNUNG LAWU

Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kota Karanganyar, Wonogiri (Jawa Tengah), dan Magetan (Jawa Timur) dengan posisi Koordinat di111°11'39" LS 07°37'37" BT. Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.


KARAKTERISTIK GUNUNG LAWU

Status gunung ini adalah gunung api"istirahat" dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara).


VEGETASI ATAU TIPE HUTAN GUNUNG LAWU

Gunung Lawu mempunyai kawasan Hutan Dipterokarp (Dipterocarpaceae/Dipterocarpus) Bukit, Hutan Dipterokarp Atas, Hutan Montane Bawah, Hutan Montane Atas, dan Hutan Ericaceous.

Hutan Dipterokarp Bukit, adalah kawasan hutan yang terdapat di ketinggian antara 300 - 750 m dpl, mempunyai bilangan pohon  yang padat dan berbagai-bagai jenis. Spesies utama ialah pohon  Meranti dan atau pohon kapur barus, pohon lamtoro.

Hutan Dipterokarp Atas adalah kawasan hutan yang terdapat pada ketinggian 750 - 1,200 m dpl yang spesies  utamanya adalah Pohon Meranti dan Pohon Pinus atau Pohon Damar.

Hutan Montane bawah, terletak pada ketinggian 1,200 -1,800 meter dpl, hutan dengan daun luruh. Hutan ini ditumbuhi pokok oak/ek pada gunung gunung di Indonesia spesies ek yang sering dijumpai adalah Mempening (Quercus argentata) dan pasang jambe (Quercus gemelliflora) yang tingginya bisa mencapai 15 meter hingga 33 meter. Hutan ini mempunyai banyak tumbuhan jenis epifit seperti tanaman anggrek, pakis dan bermacam macam tanaman paku.

Hutan Montane atas, terletak pada ketinggian 1,800 -2,900 meter. Hutan jenis ini ditumbuhi pohon pohon koniferus (coniferous) atau pohon jarum, pohon gelam gunung, pohon pinus, pohon rhododendron (berbentuk semak) hati-hati dengan jenis rhododendron (beracun, dg kadar racun rendah). Suhu yang lebih rendah dan tiupan angin yang kencang telah menyebabkan kebanyakan pokok hanya serendah 1.5 meter hingga 18 meter. Hutan ini hanya mempunyai satu lapisan saja. Tumbuhan yang hidup secara epifit adalah lumut tumbuh di dahan-dahan pohon dan di tanah sehingga tanah hutan ini lembab.

Hutan Ericaceous atau hutan gunung, kawasan hutan yang hanya terdapat di gunung, yang  merujuk kepada kawasan hutan yang terdapat pada ketinggian melebihi 1,500 meter dpl yang berisi spesies pohon berukuran kecil, bengkok dan rendah, seperti berbagai jenis belukar, rumput liar, pohon paku, pohon pakis, pohon anggrek hutan dan lumut. (Bisa masuk dalam kawasan hutan Montane).



JALUR PENDAKIAN



Pendakian pada gunung Lawu sampai dengan puncak pada ketinggian 3265 m dpl, 
dapat melalui 3 jalur :

1. Jalur selatan yaitu.     
    melalui Cemoro Sewu,

2. Jalur Barat melalui
    Cemoro Kandang, dan

3. Jalur yang terakhir adalah
    Jalur Utara yang jarang sekali
    dilalui orang pada umumnya,
    hanya warga Ngawi pada
    khususnya yaitu jalur Srambang.
  
    Sampai sekarang saya tidak
    dan belum pernah dapat info 
    tentang jalur pendakian dari
    Srambang apalagi sampai
    mendaki dari sana.


JALUR CEMORO SEWU

Jalur pendakian lewat sisi selatan Gunung Lawu, Bagi anda yang berangkat dari Jawa timur, naik bus dari terminal Maospati hingga terminal Magetan. waktu tempuh sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan akan tersaji hamparan sawah. Ketika memasuk ke kota Magetan hawa sudah beranjak sejuk. Dari terminal magetan kita oper kendaraan dengan naik mobil L300, menuju Ngerong (Pusat penjualan sayur mayur), melalui telaga Sarangan dan berakhir di Cemoro sewu, yang merupakan pos pemberangkatan dar isisi selatan.

Jalur pendakian melalui Cemoro sewu hingga puncak.Pada awal pendakian jalan masih lebar dan agak datar, setelah memasuki pos 1,jalan mulai menanjak semakin menyempit. Pepohonan di sekitar pos 1 hingga pos 3 masih sama yaitu pinus dengan di selingi pohon perdu. Namun sayang sekali pada kanan kiri jalan, dari Cemoro sewu hingga pos 1 telah di babat menjadi ladang penanaman kubis dan wortel. Pepohonannya rata-rata telah banyak yang mati. Pada pos 1 hingga pos 2 bau menyengat keluar dari bebatuan yang mengandung belerang.

Tanjakan semakin menanjak saat meninggalkan pos 2 hingga pos 4. barulah setelah pos 4 tumbuhan perdu yang ada pada ketinggian 2600 mdpl memenuhi lembah dan ngarai.

Daerah di sekitar pos 5 sering di sebut dengan Cokro Suryo, atau Cokro Srengenge, yaitu hamparan rumput yang luas seperti alun alun.

Masuk pada jalan berikutnya sudah tidak terlalu menanjak kita memasuki daerah sumur Jolotundo, yaitu sebuah sumur berupa gua vertikal dan terdapat sumber air yang kecil di dalam nya. Konon ada cerita jika kita masuk dan mengadahkan mulut menghadap ke atas, dan secara kebetulan tenggorokkan kita tertetesi oleh air yang menetes dari langit langit gua, maka kita akan di beri limpahan rejeki oleh yang maha kuasa (mitos).

Selang beberapa puluh meter dari sumur Jolotundo kita akan sampai pada sebuah sendang, dengan nama sendang Derajat. Air sangat melimpah di sendang yang ini, bahkan di samping sendang di bangunkan beberapa toilet umum.

Dan jangan kaget kalau anda melakukan pendakian ke Gunung Lawu pada awal bulan Suro, jika tiba tiba anda bertemu dengan pedagang nasi pecel didaerah Sendang Derajat sampai Hargo Dalem. Mereka adalah pedagang nasi pecel musiman yang sengaja berdagang keperluan makan saat musim pendakian pada bulan Suro.

Berikutnya kita melingkari bawah puncak gunung untuk sampai pada Hargo Dalem, sebuah petilasan Prabu Brawijaya ke V, dan sebuah makam sunan Lawu. Di wilayah Hargo Dalem biasanya sangat ramai sekali, mengingat di daerah ini banyak sekali rumah rumahan yang di buat para pedagang musiman, namanya  Kandang Jaran atau Gedogan untuk para peziarah di petilasan Prabu Brawijaya ke V, dan sebuah makam sunan Lawu.

Nah pada pagi harinya barulah kita akan melanjutkan perjalanan untuk mencapai puncak Gunung Lawu, Hargo Dumilah dengan ketinggian 3265 meter di atas permukaan laut. Di puncaknya di bangun tugu trianggulasi, dan banyak sekali sesembahan berupa dupa, kembang dan beberapa makanan, entah untuk siapa.

Dari puncak ini kita bisa melihat ke arah timur yaitu gunung Wilis, dan jika saja cuaca lagi bagus dengan langit yang jernih dan bersih kita bisa menyaksikan keagungan gunung Semeru, Gunung Arjuno. Jika melihat ke arah barat bisa di lihat gunung Merapi dan gunung Merbabu.


JALUR CEMORO KANDANG

Dan bagi anda yang ingin mendaki dari Jawa Tengah dan Jogja, bisa menaiki bus dari terminal Solo, melewati Palur dan Karanganyar, dan bus berakhir di Tawangmangu (terkenal dengan gerojokan sewu nya) Dari Tawangmangu berganti kendaraan pickup bertutup, atau naik L300, untuk menuju ke Cemoro Kandang.

Dalam perjalan mata kita selalu menatap hamparan perkebunan kubis, wortel dan kentang, dipinggir pinggir jalanya bahkan ada beberapa warga yang mencuci hasil panen di saluran air pinggir jalan. Sesampainya di Cemoro kandang biasanya kita terlebih dahulu beristirahat sejenak, minum kopi ataupun hanya sekedar mengobrol saja. Karena di Cemoro Kandang terdapat lebih banyak warung dari pada di Cemoro Sewu.

Sepanjang jalur dari Cemoro Kandang menuju puncak jalur tidak terlalu menanjak, namun cenderung melingkar dan menyusuri lereng bukit dan berbentuk seperti anak tangga (kalo cemoro sewu melalui punggung bukit) hingga pos 2 bau dari belerang sangat menyengat. Tumbuhan dari pos 1 hingga pos 4 adalah tanaman lamtoro gunung, pinus dan pakis, di selingi tanaman perdu gunung. Dari Pos 1 sampai Pos 3, kita masih akan menemukan Pos atau Shelter tertutup tapi pada Pos ke 4 dan seterusnya hanya akan kita temukan Pos atau shelter terbuka.

Hingga memasuki Jurang Pangarip arip jalan selalu menyusuri lereng, namun jika anda tak ingin berjalan melingkar anda bisa langsung melewati jalan pintas memotong langsung keatas, lumayan terjal karena lurus tidak melingkari lerengan, tapi harus hati-hati saat hujan jalur ini akandi lewati air bah pegunungan. Sampai pada pos 4 nanti tumbuhan sudah mulai jarang, dan di gantikan rerumputan gunung sampai di cokro srengenge,

Dari jalur ini Cokro Srengenge lebih luas dari pada yang melaui Jalur Cemoro Sewu, hamparan rumput menghampar hingga nanti bertemu dengan jalur dari Cemoro Sewu, di daerah Hargo Dalem, dari Hargo Dalem sampai puncak Rute Cemoro Kandang dan Rute Cemoro Sewu Menjadi satu.

Di Cokro Srengenge ke Hargo Dalem pada Jalur ini,  kita akan memasuki daerah pasar Dieng, yaitu hamparan padang edelweis di selingi bebatuan yang tertata rapi, menurut mitos pasar Dieng adalah pasarnya Setan.


JALUR SRAMBUNG

Jika melihat ke arah utara yaitu Sisi Pasar Dieng mata kita pasti akan tertuju pada sebuah bukit yang memiliki menara BTS, yaitu bukit Hargo Kahyangan. Melaui sisi sebelah timur bukit Hargo Kahyangan inilah kita bisa melewati jalur pendakian dari sisi Utara (Ngawi).



INFO DAN TIP SEPUTAR GUNUNG LAWU

INFO TEMPAT WISATA

Gunung Lawu sudah terkenal dari jaman dahulu, sejak dari jaman awal runtuhnya Kerajaan Majapahit dan Mangkunegaraan hingga jaman penjajahan dan perang kemerdekaan, sampai sekarang.

Disekitar Lereng Gunung Lawu terdapat banyak tempat-tempat populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit : Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden kedua Indonesia, Suharto.


MITOS DAN MISTERI GUNUNG LAWU

Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran.

Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Hargo Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Brawijaya  Pamungkas, Hargo Dumilingdi yakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Hargo Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.


TIPS :

Sering kesal kalau mendengar orang naik gunung ketika ditanya tentang topografi dan vegetasi atau tipe hutan yang ada digunung mereka tidak tahu dan sering menyepelekan, apalagi dengan perlengkapan yang asal-asalan.

Pada banyak kasus orang hilang, atau yang pernah ikut pelatihan "SAR GUNUNG" atau "JUNGLE SURVIVAL", mereka baru akan sadar kalau pengetahuan Topografi dan pengetahuan tentang vegetasi atau tipe hutan, Pengetahuan P3K dan Pengetahuan tentang Survival adalah syarat mutlak yang harus dikuasai. Serta perlengkapan standar Pendakian harus dimiliki. (banyak orang naik gunung sering menyepelekan itu, karena mereka merasa belum pernah kesasar dan hilang digunung, ataupun menghadapi kondisi yang ekstrim terutama cuaca yang dingin terutama gangguan kesehatan hipotermia (Penurunan Suhu tubuh dibawah 35%), namun jika ada yang pernah mengalami sendiri ataupun menimpa teman seperjalanannya dan mereka bisa survive atau selamat, mereka akan menyadari betapa pentingnya hal tersebut).

Pengetahuan Topografi sangat bermanfaat untuk menentukan lokasi, sehingga ketika kita kesasar atau ketika keluar dari jalur akan dengan cepat dan mudah kita melakukan orientasi arah untuk kembali atau meneruskan pendakian ke jalur yang benar.

Pengetahuan tentang Tipe hutan, akan sangat membantu kita mengenali posisi ketinggian kita berada saat itu, karena dari jenis jenis tanaman yang kita temui kita bisa menentukan ketinggian dari posisi kita,sehingga lebih memudahkan kita melakukan orientasi atau mengkoreksi dan memperkirakan jarak, waktu dan tenaga yang harus dilakukan.

Disamping itu, dengan mengetahui tipe-tipe tanaman,akan menyelamatkan kita atau minimal memperpanjang waktu survive kita untuk dapat ditemukan tim pencari pada saat kita hilang, dengan penggabungan pengetahuan tentang tipe hutan pengetahuan survival kita akan mengetahui tanaman mana saja yang bisa dimakan dan yang tidak, tanaman mana yang mengandung air, dan tahu kita berada dimana.

Perlengkapan Dasar yang komplit, kelihatan sepele, tapi sering menggampangkan. Padahal pada saat kita kesasar peralatan tersebut akan banyak membantu, seperti, senter dan cadangan baterai, pada saat malam akan sangat dibutuhkan, ponco atau jas hujan, akan sangat bermanfaat ketika musim hujan, apalagi ketika bertemu dengan hujan badai dan hujan yang lama berhenti apalagi dalam posisi kesasar, ponco tersebut bisa digunakan bivak sebagai shelter perlindungan darurat dari hujan dan badai.

Radio komunikasi dan call sign perwakilan pengawas hutan atau gunung, bisa Perhutani, polisi setempat atau pengelola hutan dan taman wisata, kedengaran ketinggalan jaman dan kurang kerjaan, tapi hal itu baru akan kita sadari ketika device seperti handphone blank signal, apalagi pada posisi sedang kesasar.

Demikian juga dengan korek api, balaclava, sarung tangan, kompor parapin, jaket kedap air, pakaian cadangan, pakaian atau kain berwarna terang jangan berwarna hitam, ijo atau coklat (biasanya kalau (Pencinta) Alam, menggunakan syal), stock makanan dan minuman yang dilebihkan minimal 1 hari dari target waktu pendakian dll.

Jangan Pernah berlaku sombong dan seenaknya sendiri, perhatikan 12 poin yang telah disebutkan diatas, karena kadang hal tersebut sering dapat membantu kita ataupun minimal, bisa menyemangati dan menjaga kita selama perjalanan pendakian.

Semoga bermanfaat.


#seulas senyum tipis inspirasi